
PONTIANAK, MENITNEWS.id – Turnamen sepakbola yang digelar Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Kalbar diwarnai kontroversi. Turnamen yang bertajuk silaturahmi ini juga membuat salah satu pemain harus dilarikan ke rumah sakit.
Turnamen ini diikuti oleh 12 tim dari instansi yang berada di bawah naungan Ditjenpas, Kumham dan imigrasi, termasuk mengundang Kejari Pontianak dan tim jurnalis untuk bergabung dalam turnamen ini.
Turnamen ini dimulai pada 6 Januari 2026. Seluruh pertandingan berlangsung di Lapangan Sepakbola Untan dan menggunakan sistem gugur. Sesuai jadwal, partai final akan dilangsungkan pada Sabtu (10/1).
Kontroversi terjadi pada babak 8 besar. Tim jurnalis yang mengalahkan La Samba FC akan menghadapi Tim Kejari Pontianak pada babak 8 besar. Namun, bukan tim Kejari Pontianak yang datang, justru tim lain yang berisi pemain-pemain dari tim yang sudah kalah sebelumnya.
Hal ini menimbulkan pertanyaan bagi para pemain jurnalis. Kenapa pemain yang sudah kalah bisa bermain lagi dan tim yang bermain juga bukan tim Kejari Pontianak.
“Awalnya kami saling bertanya-tanya, tapi karena turnamen ini hanya silaturahmi, kami tidak keberatan,” ungkap salah satu pemain dari tim jurnalis, Afi.
Pertandingan antara tim jurnalis dan tim pengganti Kejari Pontianak pun dimulai. Namun, jalannya pertandingan menjurus ke permainan yang cukup kasar. Bahkan, penjaga gawang tim jurnalis harus dilarikan ke rumah sakit dan harus kehilangan giginya akibat dihantam lutut pemain lawan.
Tim jurnalis pun meminta agar pertandingan dihentikan, karena sudah tidak memungkinkan lagi untuk dilanjutkan. Setelah dirundingkan, pertandingan babak kedua ditiadakan. Meski skor 1-1, tim jurnalis dinyatakan lolos ke partai semi final.
Di partai semifinal yang dimainkan pada Jumat (9/1) sore, tim jurnalis bertemu kesebelasan Persala. Bermain di bawah guyuran hujan deras, permainan berjalan cukup alot. Beberapa kartu kuning dikeluarkan. Namun, hingga babak pertama selesai, skor masih 0-0.
Beberapa menit berlangsung, para pemain jurnalis sudah bersiap di dalam lapangan untuk melanjutkan permaian di babak kedua. Namun, tim lawan tak kunjung memasuki lapangan. Ternyata tim lawan mempertanyakan legalitas dan identitas para pemain tim jurnalis.
Semua pemain jurnalis pun menunjukkan id card ke pihak panitia. Namun, tim lawan masih belum puas dan meminta beberapa pemain dari jurnalis dikeluarkan dari tim, karena dianggap bukan jurnalis.
Tim jurnalis pun menyanggupi permintaan tersebut dan mengeluarkan beberapa pemain dari tim, meskipun yang dikeluarkan dari tim memegang id card. “Tapi tim lawan tetap tidak mau melanjutkan permainan dan memaksa kami untuk mundur,” ungkap Afi.
Tim jurnalis pun memutuskan untuk mundur dari turnamen tersebut. Meski sempat diminta untuk melanjutkan permainan dengan tendangan adu pinalti, tim jurnalis tetap mengalah. “Tidak apa-apa kami WO saja. Karena memang itu yang diharapkan oleh tim lawan,” papar Afi.
Dia menilai, juara pada turnamen ini seolah-olah hanya boleh dari kalangan Ditjenpas saja. “Jadi tim undangan hanya dianggap sebagai pelengkap saja,” pungkasnya. (mr)
